Post Terkini
recent

Kisah Nabi Adam A.S.

Assalamualaikum Wr Wb
 Hari ini kami akan menceritakan tentang penciptaan manusia pertama, yaitu Nabi Adam AS, berikut ini adalah ceritanya.



a.      Proses diciptakannya nabi Adam A.S., sikap malaikat dan iblis
Setelah menciptakan bumi, gunung, laut, tumbuh-tumbuhan, langit dan matahari, bulan dan bintang, dan malaikat-malaikatnya ( yaitu jenis makhluk halus yang diciptakan untuk beribadah, menjadi perantara antara Dzat yang maha kuasa dengan hamba-hamba terutama para rasul dan para nabi-Nya), maka Allah S.W.T. hendak manciptakan makhluk lain. Makhluk tersebut diciptakan agar menjadi khalifah di bumi, yang akan menghuni dan mengisi bumi, memeliharanya, menikmati tumbuhan-tumbuhannya, mengelola kekayaan yang terpendam di dalamnya dan berkembang biak turun-temurun, waris-mewarisi sepanjang masa yang telah ditakdirkan.

Malaikat-malaikat Allah yang lebih awal diciptakan, diberitahu oleh Allah SWT akan kehendak-Nya untuk menciptakan makhluk lain. Mereka khawatir, kalau makhluk yang akan diciptakan itu nantinya akan lalai dalam beribadah dalam menjalankan tugas, bahkan melakukan pelanggaran tanpa mereka sadari. Akhirnya para malaikat menghadap Allah : “ wahai tuhan kami, mengapa engkau menciptakan khalifah di bumi, padahal kami selalu bertasbih, bertahmid, melakukan ibadah dan mengagungkan nama-Mu tiada henti, sedangkan makhluk yang akan engkau ciptakan dan turun ke bumi itu akan bertengkar satu sama lain, akan saling membunuh, berebut menguasai kekayaan alam, sehingga menyebabkan kerusakan dan kehancuran di atas bumi yang telah engkau ciptakan itu.”
Hal ini diterangkan oleh Allah di dalam Al Qur’an :

 وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةً۬‌ۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيہَا مَن يُفۡسِدُ فِيہَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ‌ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ (٣٠)
            Artinya:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: “sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah15) di muka bumi.” Mereka berkata: “mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah: 30)
15) Khalifah bermakna pengganti, pemimpin atau penguasa.
            Allah maha mengatahui apa yang para malaikat tidak ketahui. Dan Allah sendirilah yang mengetahui hikmah terhadap penguasa Bani (keturunan) Adam atas bumi yang diciptakan-Nya. Bila Allah telah menciptakan dan meniupkan roh kepadanya, maka bersujudlah para malaikat atas perintah Allah kepada makhluk baru itu sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud ibadah, karena Allah SWT melarang hamba-Nya beribadah kebada sesama makhluk-Nya.
            Kemudian diciptakanlah Adam oleh Allah SWT dari segumpal tanah liat kering dan lumpur hitam yang berbentuk. Setelah disempurnakan bentuknya, maka ditiuplah roh ciptaan Tuhan kedalamnya dan berdirilah ia tegak menjadi manusia yang sempurna.
            Para malaikat segera bersujud di hadapan Adam sebagai penghormatan bagi makhluk Allah yang akan diberi amanat untuk menguasai bumi dengan segala apa yang hidup dan tumbuh, serta yang terpendam di dalamnya. Lain dengan iblis, iblis telah membangkang dan enggan mematuhi perintah Allah, seperti yang telah dilakukan oleh para malaikat. Iblis merasa dirinya lebih mulia , lebih utama dan lebih agung dari Adam, karena ia diciptakan dari unsur api, sedang Adam diciiptakan dari tanah dan lumpur. Kebanggan atas asal usulnya itu telah menjadikan dirinya sombong, dan merasa rendah apabila bersujud menghormati Adam, walaupun hal itu diperintahkan oleh Allah.
            Allah bertanya kepada Iblis: “Aapakah yang mencegahmu bersujud menghormati sesuatu yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku? Adakah engkau menganggap dirimu besar dan agung?” Iblis menjawab: “Aku adalah lebih mulia dan lebih unggul dari dia.”
            Karena kesombongan, kecongkakan dan pembangkangannya itu, maka Allah mengusir Iblis dari surge, mengeluarkan dari barisan malaikat, disertai kutukan dan laknat, yang akan melekat pada dirinya hingga datangnya hari kiamat. Di samping itu ia dinyatakan sebagai penghuni neraka Jahannam.
            Iblis menerima balasan itu. Namun, ia memohon kepada Allah agar diberi kesempatan untuk hidup kekal hingga hari kiamat. Allah meluluskan permintaan itu, dan ditangguhkanlah ia sampai hari kebangkitan.
            Setelah menerima jaminan, bahwa ia akan diberi tangguh hidup sampai hari kebangkitan, iblis bukannya berterima kasih maupun bersyukur, sebaliknya ia mengancam akan menyesatkan Adam, sebagai penyebab terusirnya ia dari surge dan dikeluarkannya dari barisan malaikat. Ia juga akan mendatangi anak-anak keturunan Adam. Membujuk mereka agar meninggalkan jalan yang lurus dan menempuh jalan yang sesat. Mengajak mereka melakukan maksiat dan hal-hal yang terlarang. Menggoda mereka supaya melalaikan perintah-perintah agama. Mempengaruhi mereka agar tidak bersyukur dan beramal saleh.
            Selanjutnya Allah berfirman kepada Iblis terkutuk itu: “Pergilah engkau bersama pengikut-pengikutmu, yang semuanya akan menjadi  isi dan bahan bakar neraka Jahannam. Kamu tidak akan bisa menyesatkan hamba-hamba-Ku yang telah beriman kepada-Ku dengan sepenuh hati, dan memiliki aqidah yang mantap yang tidak akan goyah oleh bujuk rayumu, walaupun engkau menggunakan segala kepandaianmu untuk menghasut dan memfitnah mereka.”


b.      Adam mempelajari nama-nama benda
Allah meyakinkan para malaikat akan kebenaran hikmah-Nya, yang telah menunjuk Adam sebagai penguasa bumi. Maka diajarkanlah kepada Adam nama-nama benda yang berada dialam semesta sebagai mana firman-Nya:
 وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَہُمۡ عَلَى ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةِ فَقَالَ أَنۢبِـُٔونِى بِأَسۡمَآءِ هَـٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمۡ صَـٰدِقِينَ (٣١)

            Artinya:
Dan Dia mengajarka kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.” (QS. Al Baqarah: 31)
            Para malaikat tidak berdaya memenuhi tantangan Allah untuk menyebut nama benda-benda yang berada di hadapan mereka dan mereka mengakui akan ketidakmampuan dengan berkata:
 قَالُواْ سُبۡحَـٰنَكَ لَا عِلۡمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَآ‌ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ (٣٢)
Artinya:
Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Baqarah: 32)
            Selanjutnya Adam diperintahkan oleh Allah untuk memberitahukan nama benda-benda itu kepada para malaikat. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah:
 قَالَ يَـٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئۡهُم بِأَسۡمَآٮِٕہِمۡ‌ۖ فَلَمَّآ أَنۢبَأَهُم بِأَسۡمَآٮِٕہِمۡ قَالَ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ إِنِّىٓ أَعۡلَمُ غَيۡبَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَأَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ وَمَا كُنتُمۡ تَكۡتُمُونَ (٣٣)
Artinya:
Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukan kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.” (QS. Al Baqarah: 33)
c.       Allah menempatkan Nabi Adam di Surga
Adam diberi tempat oleh Allah di surga dan diciptakan Hawa untuk mendampingi dan menjadi teman hidupnya, menghilangkan rasa kesepian, dan melengkapi kebutuhan fitrahnya untuk menurunkan keturunan.
Menurut para ulama, Hawa diciptakan oleh Allah dari salah satu tulang rusuk adam yang sebelah kiri, ketika ia sedang tidur, sehingga ketika ia terjaga, ia melihat Hawa sudah berada di sampingnya. Ia ditanya oleh malaikat: “Wahai Adam! Apa dan siapakah makhluk yang ada di sampingmu itu?” “Ia adalah seorang perempuan,” jawab Adam sesuai fitrah yang telah diilhamkan Allah kepadanya. Kemudia malaikat bertanya lagi: “siapa namanya?” “Ia bernama Hawa”, jawab Adam. Malaikat bertanya lagi: “Untuk apa tuhan menciptakan makhluk ini?” Maka Adam menjawab: “Untuk mendampingiku, memberi kebahagiaan bagiku dan mengisi kebutuhan hidupku sesuai kehendak Allah.”
Allah berfirman kepada Adam: “Tinggalah engkau bersama isterimu di surge, rasakanlah buah-buahan yang lezat yang terdapat di dalamnya, cicipilah dan makanlah buah-buahan yang lezat sepuas hatimu dan sekehendak hatimu. Kamu tidak akan mengalami dan merasakan lapar, dahaga atau pun lelah selama di dalamnya. Namun Aku peringatkan, janganlah kamu mendekati pohon ini yang akan menyebabkan kamu celaka dan termasuk orang-orang yang zalim. Ketahuilah bahwa Iblis itu adalah musuhmu dan musuh istrimu, ia akan berusaha untuk membujuk kamu dan menyeret kamu keluar dari surge, sehingga tercabutlah kebahagiaan yang sedang kamu nikmati ini.”

Selengkapnya Allah telah menerangkan hal tersebut, sesuai dengan firman-Nya:
 وَقُلۡنَا يَـٰٓـَٔادَمُ ٱسۡكُنۡ أَنتَ وَزَوۡجُكَ ٱلۡجَنَّةَ وَكُلَا مِنۡهَا رَغَدًا حَيۡثُ شِئۡتُمَا وَلَا تَقۡرَبَا هَـٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ (٣٥)
            Artinya:
Dan Kami berfirman: “Hai Adam, tinggallah engkau dan isterimu di dalam surga, dan makanlah dengan  nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini,17) nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!”18) (QS. Al Baqarah:35)
17) Menurut setan, siapa yang memakan buah pohon itu akan kekal di dalam surga, lihat Ṭāhā (20):120
18) Zalim artinya aniaya. Orang yang zalim ialah orang yang melakukan aniaya, yang merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.

d.      Nabi Adam tergoda oleh Iblis
Iblis membuktikan ancaman yang pernah diucapkan ketika diusir oleh Allah dari surga. Iblis mulai menampakkan rencana penyesatannya terhadap Adam dan Hawa yang sedang hidup berdua di surga dalam keadaan tentram, damai dan bahagia. Iblis menyatakan kepada mereka berdua bahwa ia adalah kawan mereka dan ingin memberi nasehat dan petunjuk untuk kebaikan dan  kelestarian kebahagiaan mereka.
Segala cara dan kata-kata halus digunakan Iblis untuk mendapat kepercayaan dari Adam dan Hawa. Ia memberitahu, bahwa larangan Tuhan untuk tidak memakan buah tersebut, mereka akan menjelma menjadi malaikat dan akan hidup kekal. Iblis mengulang terus bujukannya, dengan sekali-kali menunjuk akan keharuman baunya, keindahan bentuk buahnya dan kelezatan rasanya. Akhirnya termakanlah bujukan yang halus itu oleh Adam dan Hawa. Mereka pun melanggar larangan Tuhan.



Allah telah menerangkan bahwa setan berhasil menggelincirkan Adam dan Hawa dari surga:
 فَأَزَلَّهُمَا ٱلشَّيۡطَـٰنُ عَنۡہَا فَأَخۡرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ‌ۖ وَقُلۡنَا ٱهۡبِطُواْ بَعۡضُكُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ۬‌ۖ وَلَكُمۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ مُسۡتَقَرٌّ۬ وَمَتَـٰعٌ إِلَىٰ حِينٍ۬ (٣٦)
Artinya:
Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya disana (surga). Dan kami berfirman, “turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Al Baqarah:36)
            Adam dan Hawa menyesal terhadap apa yang telah diperbuatnya. Maka keduanya pun berkata:

Artinya:
Keduanya berkata “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika engkau tidak mengampuni dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk menjadi orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’rāf: 23).
e.      Allah mengampuni Adam dan Hawa
Allah telah menerima tobat Adam dan Hawa serta mengampuni perbuatan yang telah mereka lakukan. Hal itu telah melegakan dada mereka dan menghilangkan rasa sedih akibat kelalaian mereka terhadap peringatan Allah.
Adam dan Hawa merasa tentram kembali setelah menerima pengampunan Allah. Mereka berjanji akan senantiasa menjaga jangan sampai tertipu lagi oleh Iblis. Dan berusaha agar pelanggaran yang telah dilakukan dan menimbulkan murka dan teguran Allah itu, menjadi pelajaran bagi mereka untuk lebih berhati-hati menghadapi tipu daya dan bujukan Iblis.
Harapan untuk tetap tinggal di surga yang telah pudar karena pelanggaran yang telah dilakukan, hidup kembali didalam hati dan pikiran mereka. Mereka merasa bahwa kenikmatan dan kebahagiaan hidup di surga tidak terganggu oleh sesuatu sesuatu pun. Ridha serta Rahmat-Nya akan tetap melimpah kepada mereka untuk selama-lamanya.
Namun Allah telah menentukan takdir, tentang apa yang tidak terlintas di dalam hati dan pikiran mereka. Allah telah memerintahkan Adam dan Hawa turun ke bumi sebagai bibit pertama dari hamba-hamba-Nya yang bernama manusia, yaitu Adam dan keturunannya.


Allah berfirman:
  Artinya:
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat20) dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha penerima tobat, Maha Penyayang.(QS. Al Baqarah: 37)
20) Kalimat itu menurut sebagian mufasir adalah ucapan untuk memohon ampunan (tobat)
.
Turunlah Adam dan Hawa ke bumi menghadapi cara hidup baru, yang jauh berlainan dengan hidup di surga. Mereka harus menempuh hidup di dunia yang fana ini dengan suka dan dukanya. Merekalah yang akan menurunkan umat manusia yang akan berkelompok-kelompok menjadi suku-suku dan bangsa-bangsa, yang sebagian dari mereka menjadi musuh bagi yang lain, saling membunuh, saling menganiaya dan saling menindas.
Dari waktu ke waktu Allah mengutus para rasul-Nya untuk menuntun hamba-hamba-Nya ke jalan yang lurus penuh damai. Jalan menuju kepada ridho-Nya, untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Selanjutnya Allah berfirman:
Artinya:
Kami berfirman, “Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al Baqarah: 38)

Artinya:
Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. (QS. Al Baqarah: 39)

Artinya:
Dan sungguh, Kami telah menciptakan kamu, kemudian membentuk (tubuh)mu, kemudian Kami berfirman kepada para malaikat, ”Bersujudlah kamu kepada Adam,” maka mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia (Iblis) tidak termasuk mereka yang bersujud. (QS. Al A’rāf: 11).

Artinya:
Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?” (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al A’rāf: 12).

Artinya:
(Allah) berfirman, “Maka turunlah kamu darinya (surga); karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina.” (QS. Al A’rāf: 13).

Artinya:
(Iblis) menjawab, “Berilah aku penangguhan waktu, sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al A’rāf: 14).

Artinya:
(Allah) berfirman, “Benar, kamu termasuk yang diberi penangguhan waktu.” (QS. Al A’rāf: 15).

Artinya:
(Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.” (QS. Al A’rāf: 16).

Artinya:
Kemudain aku pasti akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan dari mereka bersyukur.” (QS. Al A’rāf: 17).

Artinya:
(Allah) berfirman, “Keluarlah kamu dari sana (surga) dalam keadaan terhina dan terusir! Sesungguhnya barang siapa di antara mereka ada yang mengikutimu, pasti akan Aku isi neraka Jahannam dengan kamu semua.” (QS. Al A’rāf: 18).

Artinya:
Dan (Allah berfirman), “Wahai Adam! Tinggallah engkau bersama istrimu didalam surga dan makanlah apa saja yang kamu berdua sukai. Tetapi, janganlah kamu berdua dekati pohon yang satu ini. (Apabila didekati) kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al A’rāf: 19).





Artinya:
Kemudian setan membisikan pikiran jahat kepada mereka agar menampakan aurat mereka (yang selama ini) tertutup. Dan (setan) berkata, “Tuhanmu hanya melarang kamu berdua mendekati pohon ini agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau menjadi orang yang kekal (dalam surga).” (QS. Al A’rāf: 20).

Artinya:
Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya aku ini benar-benar termasuk para penasihatmu,” (QS. Al A’rāf: 21).

Artinya:
Dia (setan) membujuk mereka dengan tipu daya. Ketika mereka mencicipi (buah) itu, tampaklah oleh mereka auratnya maka mulailah mereka menutupinya dengan daun-daun surga. Tuhan menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melarang kamu dari pohon itu dan Aku telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (QS. Al A’rāf: 22).

Artinya:
Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al A’rāf: 23).

Artinya:
(Allah) berfirman, “Turunlah kamu! Kamu akan saling bermusuhan satu sama lain. Bumi adalah tempat kediaman dan kesenanganmu sampai waktu yang telah ditentukan.” (QS. Al A’rāf: 24).

Artinya:
(Allah) berfirman, “Disana kamu hidup, disana kamu mati, dan dari sana (pula) kamu akan dibangkitkan.” (QS. Al A’rāf: 23).

f.        Hikmah yang terkandung dari kisah Nabi Adam
1.      Sifat sombong dan congkak selalu berakibat pada kerugian dan kebinasaan. Lihatlah iblis yang turun dari singgahsananya, dicabut kedudukannya sebagai seorang malaikat dan diusir oleh Allah dari surga, disertai kutukan dan laknat yang akan melekat kepada dirinya hingga hari kiamat. Iblis menganggap dan memandang rendah Nabi Adam, dan menolak untuk bersujud menghormat, walaupun hal itu diperintahkan oleh Allah SWT.
2.      Seseorang yang terlanjur melakukan maksiat dan berbuat dosa, tidaklah sepatutnya berputus asa  dari rahmat dan ampunannya Allah. Rahmat dan magfirah-Nya dapat mencakupi segala dosa yang diperbuat oleh hamba-Nya, kecuali syirik. Betapapun besarnya dosa itu, asalkan diikuti dengan kesadaran bertaubat dan pengakuan bersalah, maka Allah akan mengampuninya.
3.      Bahwa manusia itu, walaupu ia telah dikaruniai kecerdasan berpikir, ia tetap mempunyai beberapa kelemahan, seperti sifat lalai, lupa dan khilaf. Hal itulah yang terjadi pada Nabi Adam. Walaupun ia telah menjadi manusia yang sempurna dan dikaruniai kedudukan yang istimewa di surga, ia tetap tidak terhindar dari sifat-sifat manusiawi yang lemah. Ia melupakan dan melalaikan peringatan Allah. Terjadilah pelanggaran pertama yang dilakukan oleh manusia terhadap larangan Allah.

4.      Hikmah yang terkandung dalam perintah dan larangan Allah dan dalam apa yang diciptakannya, kadangkala tidak atau belum dapat dicapai oleh otak manusia, bahkan makhluk-Nya yang terdekat. Sebagai mana yang telah dialami oleh para malaikat, tatkala diberitahu bahwa Allah akan menciptakan manusia, keturunan Adam untuk menjadi khalifah-Nya di bumi. Mereka seakan keberatan dan  bertanya-tanya, mengapa dan untuk apa Allah menciptakan jenis makhluk lain, selain mereka, yang sudah beribadah, bertasbih dan mengagungkan nama-Nya.
Unknown

Unknown

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.