Assalamualaikum Wr Wb
Hari ini kami akan menceritakan tentang penciptaan manusia pertama, yaitu Nabi Adam AS, berikut ini adalah ceritanya.
a. Proses diciptakannya nabi Adam A.S., sikap malaikat dan iblis
Setelah menciptakan bumi, gunung,
laut, tumbuh-tumbuhan, langit dan matahari, bulan dan bintang, dan
malaikat-malaikatnya ( yaitu jenis makhluk halus yang diciptakan untuk
beribadah, menjadi perantara antara Dzat yang maha kuasa dengan hamba-hamba
terutama para rasul dan para nabi-Nya), maka Allah S.W.T. hendak manciptakan
makhluk lain. Makhluk tersebut diciptakan agar menjadi khalifah di bumi, yang
akan menghuni dan mengisi bumi, memeliharanya, menikmati tumbuhan-tumbuhannya,
mengelola kekayaan yang terpendam di dalamnya dan berkembang biak
turun-temurun, waris-mewarisi sepanjang masa yang telah ditakdirkan.
Malaikat-malaikat Allah yang lebih
awal diciptakan, diberitahu oleh Allah SWT akan kehendak-Nya untuk menciptakan
makhluk lain. Mereka khawatir, kalau makhluk yang akan diciptakan itu nantinya
akan lalai dalam beribadah dalam menjalankan tugas, bahkan melakukan
pelanggaran tanpa mereka sadari. Akhirnya para malaikat menghadap Allah : “
wahai tuhan kami, mengapa engkau menciptakan khalifah di bumi, padahal kami
selalu bertasbih, bertahmid, melakukan ibadah dan mengagungkan nama-Mu tiada
henti, sedangkan makhluk yang akan engkau ciptakan dan turun ke bumi itu akan
bertengkar satu sama lain, akan saling membunuh, berebut menguasai kekayaan
alam, sehingga menyebabkan kerusakan dan kehancuran di atas bumi yang telah
engkau ciptakan itu.”
Hal ini diterangkan oleh Allah di
dalam Al Qur’an :
وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةً۬ۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيہَا مَن يُفۡسِدُ فِيہَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ (٣٠)
Artinya:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: “sesungguhnya Aku
hendak menjadikan seorang khalifah15) di muka bumi.” Mereka berkata:
“mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan
membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman:
“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah: 30)
15) Khalifah bermakna pengganti,
pemimpin atau penguasa.
Allah maha mengatahui apa yang para
malaikat tidak ketahui. Dan Allah sendirilah yang mengetahui hikmah terhadap
penguasa Bani (keturunan) Adam atas bumi yang diciptakan-Nya. Bila Allah telah
menciptakan dan meniupkan roh kepadanya, maka bersujudlah para malaikat atas
perintah Allah kepada makhluk baru itu sebagai penghormatan dan bukan sebagai
sujud ibadah, karena Allah SWT melarang hamba-Nya beribadah kebada sesama
makhluk-Nya.
Kemudian
diciptakanlah Adam oleh Allah SWT dari segumpal tanah liat kering dan lumpur
hitam yang berbentuk. Setelah disempurnakan bentuknya, maka ditiuplah roh
ciptaan Tuhan kedalamnya dan berdirilah ia tegak menjadi manusia yang sempurna.
Para
malaikat segera bersujud di hadapan Adam sebagai penghormatan bagi makhluk
Allah yang akan diberi amanat untuk menguasai bumi dengan segala apa yang hidup
dan tumbuh, serta yang terpendam di dalamnya. Lain dengan iblis, iblis telah
membangkang dan enggan mematuhi perintah Allah, seperti yang telah dilakukan
oleh para malaikat. Iblis merasa dirinya lebih mulia , lebih utama dan lebih
agung dari Adam, karena ia diciptakan dari unsur api, sedang Adam diciiptakan
dari tanah dan lumpur. Kebanggan atas asal usulnya itu telah menjadikan dirinya
sombong, dan merasa rendah apabila bersujud menghormati Adam, walaupun hal itu
diperintahkan oleh Allah.
Allah
bertanya kepada Iblis: “Aapakah yang mencegahmu bersujud menghormati sesuatu
yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku? Adakah engkau menganggap dirimu besar
dan agung?” Iblis menjawab: “Aku adalah lebih mulia dan lebih unggul dari dia.”
Karena
kesombongan, kecongkakan dan pembangkangannya itu, maka Allah mengusir Iblis
dari surge, mengeluarkan dari barisan malaikat, disertai kutukan dan laknat,
yang akan melekat pada dirinya hingga datangnya hari kiamat. Di samping itu ia
dinyatakan sebagai penghuni neraka Jahannam.
Iblis
menerima balasan itu. Namun, ia memohon kepada Allah agar diberi kesempatan
untuk hidup kekal hingga hari kiamat. Allah meluluskan permintaan itu, dan
ditangguhkanlah ia sampai hari kebangkitan.
Setelah
menerima jaminan, bahwa ia akan diberi tangguh hidup sampai hari kebangkitan,
iblis bukannya berterima kasih maupun bersyukur, sebaliknya ia mengancam akan
menyesatkan Adam, sebagai penyebab terusirnya ia dari surge dan dikeluarkannya
dari barisan malaikat. Ia juga akan mendatangi anak-anak keturunan Adam.
Membujuk mereka agar meninggalkan jalan yang lurus dan menempuh jalan yang
sesat. Mengajak mereka melakukan maksiat dan hal-hal yang terlarang. Menggoda
mereka supaya melalaikan perintah-perintah agama. Mempengaruhi mereka agar
tidak bersyukur dan beramal saleh.
Selanjutnya
Allah berfirman kepada Iblis terkutuk itu: “Pergilah engkau bersama
pengikut-pengikutmu, yang semuanya akan menjadi
isi dan bahan bakar neraka Jahannam. Kamu tidak akan bisa menyesatkan
hamba-hamba-Ku yang telah beriman kepada-Ku dengan sepenuh hati, dan memiliki
aqidah yang mantap yang tidak akan goyah oleh bujuk rayumu, walaupun engkau
menggunakan segala kepandaianmu untuk menghasut dan memfitnah mereka.”
b. Adam mempelajari nama-nama benda
Allah meyakinkan para
malaikat akan kebenaran hikmah-Nya, yang telah menunjuk Adam sebagai penguasa
bumi. Maka diajarkanlah kepada Adam nama-nama benda yang berada dialam semesta
sebagai mana firman-Nya:
وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَہُمۡ عَلَى ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةِ فَقَالَ أَنۢبِـُٔونِى بِأَسۡمَآءِ هَـٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمۡ صَـٰدِقِينَ (٣١)
Artinya:
Dan Dia mengajarka kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya,
kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah
kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.” (QS. Al Baqarah: 31)
Para
malaikat tidak berdaya memenuhi tantangan Allah untuk menyebut nama benda-benda
yang berada di hadapan mereka dan mereka mengakui akan ketidakmampuan dengan
berkata:
قَالُواْ سُبۡحَـٰنَكَ لَا عِلۡمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ (٣٢)
Artinya:
Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain
dari apa yang telah engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah yang
Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Baqarah: 32)
Selanjutnya
Adam diperintahkan oleh Allah untuk memberitahukan nama benda-benda itu kepada
para malaikat. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah:
قَالَ يَـٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئۡهُم بِأَسۡمَآٮِٕہِمۡۖ فَلَمَّآ أَنۢبَأَهُم بِأَسۡمَآٮِٕہِمۡ قَالَ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ إِنِّىٓ أَعۡلَمُ غَيۡبَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَأَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ وَمَا كُنتُمۡ تَكۡتُمُونَ (٣٣)
Artinya:
Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda
ini.” Maka setelah diberitahukan kepada mereka nama-nama benda itu, Allah
berfirman: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku
mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan
apa yang kamu sembunyikan.” (QS. Al Baqarah: 33)
c. Allah menempatkan Nabi Adam di Surga
Adam diberi tempat oleh Allah di
surga dan diciptakan Hawa untuk mendampingi dan menjadi teman hidupnya,
menghilangkan rasa kesepian, dan melengkapi kebutuhan fitrahnya untuk
menurunkan keturunan.
Menurut para ulama, Hawa diciptakan
oleh Allah dari salah satu tulang rusuk adam yang sebelah kiri, ketika ia
sedang tidur, sehingga ketika ia terjaga, ia melihat Hawa sudah berada di
sampingnya. Ia ditanya oleh malaikat: “Wahai Adam! Apa dan siapakah makhluk
yang ada di sampingmu itu?” “Ia adalah seorang perempuan,” jawab Adam sesuai
fitrah yang telah diilhamkan Allah kepadanya. Kemudia malaikat bertanya lagi:
“siapa namanya?” “Ia bernama Hawa”, jawab Adam. Malaikat bertanya lagi: “Untuk
apa tuhan menciptakan makhluk ini?” Maka Adam menjawab: “Untuk mendampingiku,
memberi kebahagiaan bagiku dan mengisi kebutuhan hidupku sesuai kehendak
Allah.”
Allah berfirman kepada Adam:
“Tinggalah engkau bersama isterimu di surge, rasakanlah buah-buahan yang lezat
yang terdapat di dalamnya, cicipilah dan makanlah buah-buahan yang lezat sepuas
hatimu dan sekehendak hatimu. Kamu tidak akan mengalami dan merasakan lapar,
dahaga atau pun lelah selama di dalamnya. Namun Aku peringatkan, janganlah kamu
mendekati pohon ini yang akan menyebabkan kamu celaka dan termasuk orang-orang
yang zalim. Ketahuilah bahwa Iblis itu adalah musuhmu dan musuh istrimu, ia
akan berusaha untuk membujuk kamu dan menyeret kamu keluar dari surge, sehingga
tercabutlah kebahagiaan yang sedang kamu nikmati ini.”
Selengkapnya Allah telah menerangkan
hal tersebut, sesuai dengan firman-Nya:
وَقُلۡنَا يَـٰٓـَٔادَمُ ٱسۡكُنۡ أَنتَ وَزَوۡجُكَ ٱلۡجَنَّةَ وَكُلَا مِنۡهَا رَغَدًا حَيۡثُ شِئۡتُمَا وَلَا تَقۡرَبَا هَـٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ (٣٥)
Artinya:
Dan Kami berfirman: “Hai Adam, tinggallah engkau dan isterimu di dalam
surga, dan makanlah dengan nikmat
(berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (tetapi) janganlah kamu dekati
pohon ini,17) nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!”18)
(QS. Al Baqarah:35)
17) Menurut setan, siapa yang memakan buah pohon itu akan
kekal di dalam surga, lihat Ṭāhā (20):120
18) Zalim artinya aniaya. Orang yang zalim ialah orang
yang melakukan aniaya, yang merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.
d. Nabi Adam tergoda oleh Iblis
Iblis membuktikan ancaman yang pernah
diucapkan ketika diusir oleh Allah dari surga. Iblis mulai menampakkan rencana
penyesatannya terhadap Adam dan Hawa yang sedang hidup berdua di surga dalam
keadaan tentram, damai dan bahagia. Iblis menyatakan kepada mereka berdua bahwa
ia adalah kawan mereka dan ingin memberi nasehat dan petunjuk untuk kebaikan
dan kelestarian kebahagiaan mereka.
Segala cara dan kata-kata halus
digunakan Iblis untuk mendapat kepercayaan dari Adam dan Hawa. Ia memberitahu,
bahwa larangan Tuhan untuk tidak memakan buah tersebut, mereka akan menjelma
menjadi malaikat dan akan hidup kekal. Iblis mengulang terus bujukannya, dengan
sekali-kali menunjuk akan keharuman baunya, keindahan bentuk buahnya dan
kelezatan rasanya. Akhirnya termakanlah bujukan yang halus itu oleh Adam dan
Hawa. Mereka pun melanggar larangan Tuhan.
Allah telah menerangkan bahwa setan
berhasil menggelincirkan Adam dan Hawa dari surga:
فَأَزَلَّهُمَا ٱلشَّيۡطَـٰنُ عَنۡہَا فَأَخۡرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِۖ وَقُلۡنَا ٱهۡبِطُواْ بَعۡضُكُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ۬ۖ وَلَكُمۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ مُسۡتَقَرٌّ۬ وَمَتَـٰعٌ إِلَىٰ حِينٍ۬ (٣٦)
Artinya:
Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya
dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya disana (surga). Dan kami
berfirman, “turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi
kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Al Baqarah:36)
Adam
dan Hawa menyesal terhadap apa yang telah diperbuatnya. Maka keduanya pun
berkata:
Artinya:
Keduanya berkata “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri.
Jika engkau tidak mengampuni dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami
termasuk menjadi orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’rāf: 23).
e. Allah mengampuni Adam dan Hawa
Allah telah menerima
tobat Adam dan Hawa serta mengampuni perbuatan yang telah mereka lakukan. Hal
itu telah melegakan dada mereka dan menghilangkan rasa sedih akibat kelalaian
mereka terhadap peringatan Allah.
Adam dan Hawa merasa
tentram kembali setelah menerima pengampunan Allah. Mereka berjanji akan
senantiasa menjaga jangan sampai tertipu lagi oleh Iblis. Dan berusaha agar
pelanggaran yang telah dilakukan dan menimbulkan murka dan teguran Allah itu,
menjadi pelajaran bagi mereka untuk lebih berhati-hati menghadapi tipu daya dan
bujukan Iblis.
Harapan untuk tetap
tinggal di surga yang telah pudar karena pelanggaran yang telah dilakukan,
hidup kembali didalam hati dan pikiran mereka. Mereka merasa bahwa kenikmatan
dan kebahagiaan hidup di surga tidak terganggu oleh sesuatu sesuatu pun. Ridha
serta Rahmat-Nya akan tetap melimpah kepada mereka untuk selama-lamanya.
Namun Allah telah
menentukan takdir, tentang apa yang tidak terlintas di dalam hati dan pikiran
mereka. Allah telah memerintahkan Adam dan Hawa turun ke bumi sebagai bibit
pertama dari hamba-hamba-Nya yang bernama manusia, yaitu Adam dan keturunannya.
Allah berfirman:
Artinya:
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat20)
dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha penerima
tobat, Maha Penyayang.(QS. Al Baqarah: 37)
20) Kalimat itu menurut sebagian mufasir adalah ucapan
untuk memohon ampunan (tobat)
.
Turunlah Adam dan Hawa ke bumi
menghadapi cara hidup baru, yang jauh berlainan dengan hidup di surga. Mereka
harus menempuh hidup di dunia yang fana ini dengan suka dan dukanya. Merekalah
yang akan menurunkan umat manusia yang akan berkelompok-kelompok menjadi
suku-suku dan bangsa-bangsa, yang sebagian dari mereka menjadi musuh bagi yang
lain, saling membunuh, saling menganiaya dan saling menindas.
Dari waktu ke waktu Allah mengutus
para rasul-Nya untuk menuntun hamba-hamba-Nya ke jalan yang lurus penuh damai.
Jalan menuju kepada ridho-Nya, untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan di
akhirat.
Selanjutnya Allah berfirman:
Artinya:
Kami berfirman, “Turunlah kamu semua
dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut
pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al Baqarah: 38)
Artinya:
Adapun orang-orang yang kafir dan
mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di
dalamnya. (QS. Al Baqarah: 39)
Artinya:
Dan sungguh, Kami telah menciptakan
kamu, kemudian membentuk (tubuh)mu, kemudian Kami berfirman kepada para
malaikat, ”Bersujudlah kamu kepada Adam,” maka mereka pun sujud, kecuali Iblis.
Ia (Iblis) tidak termasuk mereka yang bersujud. (QS. Al A’rāf: 11).
Artinya:
Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu
(sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?” (Iblis)
menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan
dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al A’rāf: 12).
Artinya:
(Allah) berfirman, “Maka turunlah
kamu darinya (surga); karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di
dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina.” (QS. Al A’rāf: 13).
Artinya:
(Iblis) menjawab, “Berilah aku
penangguhan waktu, sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al A’rāf: 14).
Artinya:
(Allah) berfirman, “Benar, kamu
termasuk yang diberi penangguhan waktu.” (QS. Al A’rāf: 15).
Artinya:
(Iblis) menjawab, “Karena Engkau
telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu
yang lurus.” (QS. Al A’rāf: 16).
Artinya:
Kemudain aku pasti akan mendatangi
mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau
tidak akan mendapati kebanyakan dari mereka bersyukur.” (QS. Al A’rāf: 17).
Artinya:
(Allah) berfirman, “Keluarlah kamu
dari sana (surga) dalam keadaan terhina dan terusir! Sesungguhnya barang siapa
di antara mereka ada yang mengikutimu, pasti akan Aku isi neraka Jahannam
dengan kamu semua.” (QS. Al A’rāf: 18).
Artinya:
Dan (Allah berfirman), “Wahai Adam!
Tinggallah engkau bersama istrimu didalam surga dan makanlah apa saja yang kamu
berdua sukai. Tetapi, janganlah kamu berdua dekati pohon yang satu ini.
(Apabila didekati) kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al A’rāf: 19).
Artinya:
Kemudian setan membisikan pikiran
jahat kepada mereka agar menampakan aurat mereka (yang selama ini) tertutup.
Dan (setan) berkata, “Tuhanmu hanya melarang kamu berdua mendekati pohon ini
agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau menjadi orang yang kekal (dalam
surga).” (QS. Al A’rāf: 20).
Artinya:
Dan dia (setan) bersumpah kepada
keduanya, “Sesungguhnya aku ini benar-benar termasuk para penasihatmu,” (QS. Al A’rāf: 21).
Artinya:
Dia (setan) membujuk mereka dengan
tipu daya. Ketika mereka mencicipi (buah) itu, tampaklah oleh mereka auratnya
maka mulailah mereka menutupinya dengan daun-daun surga. Tuhan menyeru mereka,
“Bukankah Aku telah melarang kamu dari pohon itu dan Aku telah mengatakan bahwa
sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (QS. Al A’rāf: 22).
Artinya:
Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami,
kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan
memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al A’rāf: 23).
Artinya:
(Allah) berfirman, “Turunlah kamu!
Kamu akan saling bermusuhan satu sama lain. Bumi adalah tempat kediaman dan
kesenanganmu sampai waktu yang telah ditentukan.” (QS. Al A’rāf: 24).
Artinya:
(Allah) berfirman, “Disana kamu hidup,
disana kamu mati, dan dari sana (pula) kamu akan dibangkitkan.” (QS. Al A’rāf: 23).
f.
Hikmah yang terkandung dari kisah
Nabi Adam
1. Sifat sombong dan congkak selalu
berakibat pada kerugian dan kebinasaan. Lihatlah iblis yang turun dari
singgahsananya, dicabut kedudukannya sebagai seorang malaikat dan diusir oleh
Allah dari surga, disertai kutukan dan laknat yang akan melekat kepada dirinya
hingga hari kiamat. Iblis menganggap dan memandang rendah Nabi Adam, dan
menolak untuk bersujud menghormat, walaupun hal itu diperintahkan oleh Allah
SWT.
2. Seseorang yang terlanjur melakukan
maksiat dan berbuat dosa, tidaklah sepatutnya berputus asa dari rahmat dan ampunannya Allah. Rahmat dan
magfirah-Nya dapat mencakupi segala dosa yang diperbuat oleh hamba-Nya, kecuali
syirik. Betapapun besarnya dosa itu, asalkan diikuti dengan kesadaran bertaubat
dan pengakuan bersalah, maka Allah akan mengampuninya.
3. Bahwa manusia itu, walaupu ia telah
dikaruniai kecerdasan berpikir, ia tetap mempunyai beberapa kelemahan, seperti
sifat lalai, lupa dan khilaf. Hal itulah yang terjadi pada Nabi Adam. Walaupun
ia telah menjadi manusia yang sempurna dan dikaruniai kedudukan yang istimewa
di surga, ia tetap tidak terhindar dari sifat-sifat manusiawi yang lemah. Ia
melupakan dan melalaikan peringatan Allah. Terjadilah pelanggaran pertama yang
dilakukan oleh manusia terhadap larangan Allah.
4. Hikmah yang terkandung dalam perintah
dan larangan Allah dan dalam apa yang diciptakannya, kadangkala tidak atau
belum dapat dicapai oleh otak manusia, bahkan makhluk-Nya yang terdekat.
Sebagai mana yang telah dialami oleh para malaikat, tatkala diberitahu bahwa
Allah akan menciptakan manusia, keturunan Adam untuk menjadi khalifah-Nya di
bumi. Mereka seakan keberatan dan
bertanya-tanya, mengapa dan untuk apa Allah menciptakan jenis makhluk
lain, selain mereka, yang sudah beribadah, bertasbih dan mengagungkan nama-Nya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar