Nabi Nuh adalah nabi
keempat sesudah nabi adam, Syits, dan Idris. Keturunan ke Sembilan dari Nabi
Adam, ayahnya bernama Lamik bin Metusyalih bin Idris.
a. Nabi Nuh berdakwah di tengah-tengah kaumnya
Nabi Nuh menerima wahyu kenabian dari
Allah dalam masa “fatrah,” masa
kekosaongan diantara dua rasul. Biasanya manusia secara berangsur-angsur
melupakan ajaran agama yang telah dibawa oleh nabi yang meninggalkan mereka.
Mereka kembali syiri, meninggalkan amal kebijakan, melakukan kemungkaran dan
kemaksiatan di bawah pimpinan iblis.
Kaum Nuh juga tidak luput dari proses
tersebut. Ketika Nabi Nuh datang ketengah-tengah mereka, mereka sedang
menyembah berhala (yaitu patung-patung yang dibuat oleh tangan mereka sendiri).
Patung-patung itu disembahnya sebagi tuhan, yang dianggapnya dapat membawa
kebaikan dan manfaat serta menolak segala kesengsaraan dan kemalangan.
Berhala-berhala yang dipertuhankan,
dan yang mereka yakini mempunyai kekuatan dan kekuasaan gaib di atas kemampuan
manusia itu diberi nama menurut kehendak dan selera kebodohan mereka.
Berhala-berhala itu diberi nama “Wadd,” “Suwa,” “Yaghuts,” “Ya’uq,” dan “Nasr.”
Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya, untuk meninggalkan syirik dan kembali kepada
tauhid, menyembah Tuhan Allah seru sekalian alam. Dia menyampaikan
ajaran-ajaran agama yang diwahyukan kepadanya, serta meninggalkan kemungkaran
maupun kemaksiatan yang diajarkan oleh setan.
Nabi Nuh mengalihkan perhatian
kaumnya agar melihat alam semesta yang diciptakan oleh Allah, berupa langit dan
matahari, bulan dan bintang, bumi dengan kekayaan yang ada diatasnya, memberi
kenikmatan hidup bagi manusia, pergantian malam menjadi siang, dan siang
menjadi malam. Kesemuanya itu menjadi bukti dan tanda nyata akan adanya keesaan
Allah yang harus disembah, dan buka menyembah berhala-berhala yang mereka buat
dengan tangan mereka sendiri.
Nabi Nuh juga memberitakan kepada
mereka bahwa aka ada ganjaran yang akan diterima oleh manusia atas segala
amalnya di dunia, yaitu pahala surga bagi mereka yang berbuat kebajikan dan
siksa neraka bagi segala bentuk pelanggaran terhadap perintah agama yang berupa
kemungkaran dan kemaksiatan.
Nabi Nuh dikaruniai Allah dengan
sifat-sifat yang patut dimiliki oleh seorang nabi. Fasih dan tegas dalam
kata-katanya, bijaksana dan sabar dalam tindak-tanduknya, melaksanakan tugas
risalah kepada kaumnya dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan. Kadangkala
mengetuk hati nurani mereka dengan kata-kata yang tajam dan nada kasar, bila
menghadapi pembesar-pembesar kaumnya yang keras kepala, yang enggan menerima
hujjah dan dalil-dalil yang dikemukakan kepada mereka.
Walaupun Nabi Nuh telah berusaha
sekuat tenaga untuk berdakwah kepada kaumnya dengan segala kebijaksanaan,
kecakapan, dan kesabaran dalam tiap kesempatan, ternyata sedikit sekali dari
kaumnya yang dapat menerima dakwah dan mengikuti ajakan, yang menurut riwayat,
tidak melebihi bilangan seratus orang. Mereka yang beriman terdiri dari
orang-orang fakir-miskin, berkedudukan social rendah. Orang yang kaya-raya,
berkedudukan tinggi dan terpandang dalam masyarakat, yang merupakan pembesar
dan penguasa, tetap membangkang, tidak mempercayai Nabi Nuh, mengingkari
dakwahnya, bahkan mereka berusaha untuk mengadakan persekongkolan hendak
melumpuhkan dan menggagalkan usaha Nabi Nuh AS dalam berdakwah.
Mereka berkata kepada Nabi Nuh AS:
“Bukankah engkau hanya seorang dari kami dan tidak beda dengan kami sebagai
manusia biasa. Jikalau betul Allah akan mengutus seorang rasul yang membawa
perintah-Nya, niscaya Dia akan mengutus seorang malaikat yang patut kami
dengarkan kata-katanya dan kami ikuti ajakannya dan bukan seorang manusia biasa
seperti engkau. Pengikut-pengikutmu itu adalah orang yang tidak mempunyai daya
piker dan ketajaman otak, mereka mengikutimu secara buta lagi tuli tanpa
memikirkan dan menimbang secara matang mengenai benar tidaknya dakwah dan
ajakanmu itu. Apabila agama yang engkau bawa dan ajaran-ajaran yang engkau
sodorkan kepada kami itu betul-betul benar, niscaya kami yang lebih dahulu
mengikutimu dan bukan orang-orang gembel seperti pengikut-pengikutmu itu. Kami
sebagai pemuka-pemuka masyarakat yang pandai berpikir, memiliki kecerdasan otak
dan pandangan yang luas dan yang dipandang oleh masyarakat sebagai
pemimpin-pemimpinnya, tidaklah mudah bagi kami menerima ajakan dan dakwahmu.
Engkau tidak mempunyai kelebihan di atas kami tentang kepandaian, kecerdasan,
kekayaan maupun pengetahuan tentang soal-soal kemasyarakatan dan pergaulan
hidup. Kami lebih pandai dan lebih mengetahui dari kamu tentang hal itu semuanya. Anggapan kami terhadap dirimu
tiada lain dan tiada bukan adalah bahwa engkau adalah pendusta belaka.”
Nabi Nuh juga menjawab ejekan dan
olok-olok kaumnya: “Adakah dari kalian mengira bahwa aku dapat memaksa kalia
mengikuti ajaranku, atau mengira bahwa aku mempunyai kekuasaan untuk menjadikan
kalian semua orang-orang yang beriman. Jika kalian tetap menolak ajakanku dan
tetap buta dan tuli terhadap bukti-bukti kebenaran dakwahku, tetap
mempertahankan pendirian kalia yang sesat,
yang diilhami oleh kesombongan dan kecongkakan karena kedudukan dan
harta benda yang kalian miliki.”
“Aku hanya seorang manusia yang
mendapat amanat dan tugas oleh Allah. Untuk menyampaikan risalah-Nya kepada
kalian. Jika kalian tetap keras kepala, tidak mau kembali ke jalan yang benar
dan menerima agama Allah yang diutuskannya kepadaku, maka terserahlah kepada
Allah untuk menentukan hukmu-Nya dan ganjaran-Nya atas diri kalian semua. Aku
hanyalah seorang pesuruh dan rasul-Nya, yang diperintahkan untuk menyampaikan
amanat kepada hamba-hamba-Nya.”
“Dialah yang berkuasa memberi hidayah
kepada kalian. Meng-ampuni dosa kalian atau menurunkan siksa-Nya kepada kamu
sekalian jika Ia kehendaki. Dialah yang berkuasa menurunkan siksa-Nya di dunia
maupun menangguhkannya sampai hari kiamat. Dialah Tuhan Pencipta alam semesta ini,
Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”
Kaum Nuh mengemukakan syarat dengan
berkata: “Wahai Nuh. Jika kamu menghendaki agar kami mengikutimu dan memberi
sokongan serta semangat kepadamu, dan kepada agama yang engkau bawa, maka jauhkanlah
para pengikutmu yang terdiri dari para petani, buruh dan hamba-hamba sahaya
itu. Usirlah dari pergaulanmu, karena kami tidak dapat bergaul dengan mereka,
duduk berdampingan dengan mereka, mengikuti cara hidup mereka, bergabung dengan
mereka dalam suatu agama dan kepercayaan. Bagaimana kami dapat menerima suatu
agama yang menyamaratakan penguasa dan pembesar dengan buruh-buruhnya, dan
menyamaratakan orang kaya yang berkedudukan tinggi dengan orang yang miskin dan
papa.”
Nabi Nuh menolak persyaratan kaumnya
dan berkata: “Risalah dan agama yang kubawa adalah untuk semua orang tanpa
kecuali, yang pandai maupun yang bodoh, yang kaya maupun yang miskin, majikan
maupun buruh, penguasa atau rakyat. Semuanya mempunyai kedudukan dan tempat
yang sama terhadap agama dan hukum Allah. Anndaikata aku menuruti
persyaratanmu, agar meluluskan keinginanmu untuk menyingkirkan para pengikutku
yang setia itu, maka siapakah yang dapat aku andalkan untuk meneruskan dakwahku
kepada orang banyak, dan bagaimana aku sampai hati menjauhkan aku dari
orang-orang yang telah beriman dan menerima dakwahku dengan penuh keyakinan dan keikhlasan,
sedangkan kalian menolaknya serta mengingkarinya.”
“Mereka adalah orang-orang yang telah
membantuku dalam tugasku di kala kalian menghalang-halangi usahaku dan
merintangi dakwah-ku.dan bagaimana aku dapat mempertanggung jawabkan tindakan
pengusiranku kepada mereka terhadap Allah, bila mereka mengadu bahwa aku telah
membalas kesetiaan dan ketaatan mereka dengan kebalikannya hanya semata-mata untuk
memenuhi permintaanmu dan tunduk kepada persyaratanmu yang tidak wajar dan
tidak dapat diterima oleh akal dan
pikiran yang sehat. Sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang bodoh yang
tidak berppikiran sehat.”
Setelah mereka tidak berdaya lagi
untuk membantah kebenaran kata-kata Nabi Nuh, mereka telah kehabisan alasan dan
hujjah untuk melanjutkan dialog dengan beliau, maka berkatalah mereka: “Wahai
Nuh! Kita telah bermujahadah dan berdebat, berdialog serta mendengar dakwahmu
yang menjemukan. Kami tetap tidak akan mengikutimu dan tidak akan sekali-kali
melepaskan kepercayaan dan adat istiadat kami. Tidak ada gunanya lagi engkau
mengulang-ulangi dakwah dan ajakanmu, bersilat lidah dengan kami. Datangkanlah
apa yang telah engkau janjikan dan telah engkau ancamkan kepada kami, jika
engkau benar-benar orang yang menepati janji. Kami ingin melihat kebenaran
kata-katamu dan ancamanmu dalam bentuk nyata, karena kami masih tetap belum
mempercayaimu dan tetap meragukan dakwahmu.”
b. Nabi Nuh Menyerahkan Kaumnya Kepada Allah
Nabi Nuh berada di
tengah-tengah kaumnya selama Sembilan ratus lima puluh tahun, berdakwah untuk
menyampaikan risalah Tuhan. Mengajak mereka untuk meninggalkan penyembahan
terhadap berhala, kembali menyembah dan beribadah kepada Allah yang Maha Kuasa.
Menuntun keluar dari jalan yang sesat dan gelap. Menuju jalan yang benar dan
terang. Mengajari mereka hokum-hukum syariat dan agama yang diwahyukan oleh
Allah kepadanya. Mengangkat derajat manusia-manusia yang tertindas dan lemah ke
tingkat yang sesuai dengan fitrah dan kodratnya dan berusaha menghilangkan
sifat-sifat sombong dan congkak yang melekat pada para pembesar kaumnya, serta
mendidik mereka supaya berkasih saying, lagi tolong menolong di antara sesama
manusia.
Dalam waktu yang cukup
lama, Nabi Nuh tidak berhasil menyadarkan dan menarik kaumnya untuk mengikuti
dan menerima dakwahnya, kecuali hanya sekelompok kecil pengikut yang tidak
mencapai bilangan seratus orang.
Dengan penuh kesabaran
dan keuletan, ia berharap, akan datang masanya, kaumnya akan sadar diri dan
mengakui kebenaran dakwahnya. Harapan Nabi Nuh itu, makin hari makin menipis.
Dia merasa bahwa sinar iman dan takwa tidak akan menembus ke dalam hati mereka, yang telah
tertutup rapat oleh ajakan dan bisikan iblis.
Hal itu telah ditegaskan
nyata, dengan diterimanya wahyu oleh Nabi Nuh berupa firman Allah,
“Sesungguhnya tidak aka nada seorang daripada kaummu untuk mengikutimu dan
beriman, kecuali mereka yang telah mengikutimu dan beriman lebih dulu. Maka
janganlah engkau bersedih hati dengan apa yang mereka perbuat”.
Dengan adanya penegasan
firman itu, lenyaplah harapan Nabi Nuh dari kaumnya dan habislah kesabarannya.
Ia memohon kepada Allah agar menurunkan azab-Nya kepada kaumnya, seraya
berseru: “Ya Tuhanku! Janganlah Engkau biarkan seorangpun dari orang-orang
kafir itu hidup dan tinggal di atas bumi. Mereka akan berusaha untuk
menyesatkan hamba-hamba-Mu jika Engkau biarkan mereka tinggal. Mereka tidak
akan melahirkan dan menurunkan, selain anak-anak yang berbuat maksiat dan anak-anak
kafir seperti mereka.”
Doa Nabi Nuh dikabulkan
oleh Allah dan permohonannya diluluskan. Kepadanya diperintahkan, agar membuat
sebuah kapal dengan tidak usah lagi menghiraukan dan mempersoalkan kaumnya,
karena mereka itu akan menerima hukuman dari Allah, yaitu binasa ditenggelamkan
oleh air bah.
c. Nabi Nuh Membuat Kapal
Setelah menerima perintah Allah untuk
membuat kapal, Nabi Nuh segera mengumpulkan para pengikutnya. Di bawah
komandonya mereka mulai mengumpulkan bahan yang dibutuhkan untuk maksud
tersebut. Dengan mengambil tempat agak jauh dari kota dan keramaian, mereka
dengan rajin dan tekun kerja siang dan malam menyelesaikan pembuatan kapal yang
diperintahkan itu.
Walaupun Nabi Nuh telah menjauhi kota
dan masyarakat, dalam menyelesaikan pembuatan kapalnya, namun ia tidak luput
dari ejekan dan cemoohan kaumnya, yang kebetulan atau sengaja melalui tempat
pembuatan kapal.
Mereka mengejek dan mengolok-olok
dengan mengatakan: “Wahai Nuh! Sejak kapan engkau menjadi tukang kayu? Bukankah
menurut pengakuanmu engkau adalah seorang nabi atau rasul. Mengapa sekarang
menjadi tukang kayu dan membuat kapal? Dan kapal yang engkau buat di tempat
yang jauh dari air. Apakah maksudmu ditarik oleh kerbau ataukah mengharapkan
angina yang akan menarik kapalmu ke laut?” dan banyak kata ejekan lain, yang
diteriman oleh Nabi Nuh. Dengan sikap tersenyum Nabi Nuh menjawab: “Baiklah,
tunggu saja saatnya, jika kamu sekarang mengejek dan mengolok-olok kami, maka
akan tibalah kesempatan bagi kami. Kelak kami akan mengejek kalian dan akan
kalian ketahui untuk apa kapal yang kami siapkan ini. Tunggulah saat azan, dan
hukuman Allah menimpa atas diri kalian semua.”
Begitu pembuatan kapal yang merupakan
alat transportasi laut yang pertama di dunia selesai, Nabi Nuh menerima wahyu
dari Allah: “Bersiap-siaplah engkau dengan kapalmu. Bila tiba perintah-Ku dan
terlihat tanda-tanda dari-Ku, segeralah angkut para pengikutmu, orang-orang
yang telah beriman dari kaum dan kerabatmu, dan bawalah serta dua pasangan dari
tiap jenis makhluk hidup yang ada di atas bumi dan berlayarlah dengan
seizing-Ku.”
Kemudian tercurahlah dari langit dan
memancar ke bumi air yang deras lagi dahsyat. Dalam sekejap mata, telah menjadi
banjir besar melanda seluruh kota dan desa, menggenangi daratan, bahkan
mencapai puncak bukit-bukit. Tiada tempat berlindung dari air yang dahsyat itu,
kecuali kapal Nabi Nuh yang telah terisi penuh dengan orang-orang mukmin, dan
pasangan-pasangan makhluk yang diselamatkan oleh Nabi Nuh atas perintah Allah.
Dengan iringan “Bismillaah majreeha wa mursaahaa,” berlayarah kapal Nabi Nuh
menyusuri lautan air yang besar, menentang angina yang kadangkala lemah lembut
dan kadangkala ganas dan rebut. Dikanan kiri kapal terlihat orang-orang kafir
dari kaum Nabi Nuh. Mereka bergulat melawan gelombang air yang menggulung dan
berusaha menyelamatkan diri dari cengkaraman maut yang sudah siap menerkam
mereka di dalam lipatan gelombang-gelombang itu.
Ketika Nabi Nuh tengah berada di atas
geladak kapal, beliau memperhatikan cuaca. Melihat orang-orang kafir sedang
begelimpangan diatas permukaan air. Tiba-tiba terlihat olehnya tubuh putera
sulungnya bernama “Kan’aan” timbul dan tenggelam dipermainkan oleh gelombang.
Pada saat itu, tanpa disadarinya, timbulah rasa cinta dan kasih sayang seorang
ayah terhadap putera kandungnya yang menghadapi maut ditelan oleh gelombang.
Nabi Nuh secara spontan, terdorong hatinya, berteriak dengan keras memanggil
puteranya: “Wahai anakku! Datanglah kemari dan bergabunglah bersama keluargamu
, bertobatlah engkau dan berimanlah kepada Allah agar engkau selamat dan
terhindar dari bahaya maut yang engkau hadapi. Janganlah kamu mengikuti
orang-orang kafir yang sedang mejalani hukuman Allah ini. Percayalah bahwa
tempat satu-satunya yang dapat menyelamatkan engkau adalah bergabung dengan kami
di atas kapal ini. Saat ini tidak akan ada yang dapat meloloskan diri dari
hukum Allah yang telah ditimpakan ini, kecuali orang-orang yang memperoleh
rahmat dan ampunan-Nya.”
Begitu Nabi Nuh selesai mengucapkan
kata-katanya, tenggelamlah Kan’aan karena disambar oleh gelombang yang ganas.
Lenyapnya ia dari pandangan mata ayahnya. Tergelincir ke bawah lautan air,
mengikuti kawan-kawan dan pembesar-pembesar kaumnya yang durhaka itu.
Nabi Nuh bersedih hati dan berduka
cita atas kematian puteranya dalam keadaan kafir, tidak beriman dan belum
mengenal Allah. Beliau berkeluh kesah dan berseru kepada Allah: “Ya Tuhanku,
sesungguhnya puteraku itu adalah darah dagingku dan bagian dari keluargaku dan
sesungguhnya janji-Mu adalah janji yang benar dan Engkaulah Maha Hakim yang
Maha Berkuasa.”
Allah berfirman: “Wahai Nuh!
Sesungguhnya dia puteramu itu tidaklah termasuk keluargamu, kerena ia telah
menyimpang dari ajaranmu. Melanggar perintahmu, menolak da’wahmu dan mengikuti
jejak orang-orang kafir dari kaummu. Coretlah namanya dari daftar keluargamu.
Hanya mereka yang telah menerima dakwahmu, mengikuti jalanmu dan beriman
kepada-Ku yang dapat engkau masukan dan golongkan ke dalam barisan keluargamu.
Yang telah Aku janjikan perlindungannya dan terjamin keselamatan jiwanya. Adapun
orang-orang yang telah mengingkari risalahmu, mendustakan dakwahmu dan tetap
mengikuti hawa nafsunya dan tuntunan iblis, pastilah mereka akan binasa.
Menjalani hukuman yang Aku tentukan, walaupun mereka berada di puncak gunung.
Maka janganlah engkau sekali-kali menanyakan tentang sesuatu yang engkau belum
ketahui. Aku ingatkan kepadamu, jangalah engkau sampai tergolong ke dalam
golongan orang-orang yang bodoh.”
Nabi Nuh segera sadar setelah
menerima teguran dari Allah. Bahwa cinta dan kasih sayang kepada anak, telah
menjadikan dirinya lupa akan janji dan ancaman Allah terhadap orang-orang kafir
termasuk puteranya sendiri. Ia sadar bahwa ia khilaf, saat memanggil puteranya,
didorong oleh perasaan naluri darah yang menghubungkan dengan puteranya. Sepatutnya
cinta dan taat kepada Allah harus berada diatas cinta kepada keluarga dan harta
benda. Ia sangat menyesalkan kelalaian dan kealpaan itu, dan mengharap
maghfirah-Nya seraya berseru: “Ya Tuhan, aku berlindung kepada-Mu dari godaan
setan yang terlaknat, ampunilah kelalaianku dan kealpaanku. Sampai aku
menanyakan sesuatu yang aku tidak mengetahuinya. Ya Tuhanku, bila Engkau tidak
memberi ampuna dan maghfira serta menurunkan rahmat bagiku, niscaya aku akan
menjadi orang yang merugi.”
Air bah itu mencapai puncak
keganasannya, habis binasalah kaum Nuh yang kafir dan zalim sesuai dengan
kehendak dan hukum Allah. Kemudian surutlah lautan air diserap bumi,
bertambatlah kapal Nuh di atas bukit “Judiy” dengan iringan perintah Allah
kepada Nabi Nuh: “Turunlah wahai Nuh ke daratan, engkau dan orang-orang mukmin
yang menyertaimu, yang selamat dilimpahi berkah dan inayah dari sisi-Ku.”
Di dalama Al Qur’an telah diceritakan
tentang kisah Nabi Nuh dalam 28 surat, diantaranya adalh surat Nuh dari ayat 1
s.d 28 sebagai berikut:

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): "Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih",
Nuh berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu,
(yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku,
niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui".
Nuh berkata: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang,
maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).
Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.
Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan,
kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam,
maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-,
niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,
dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.
Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?
Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian.
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?
Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?
Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya,
kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.
Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan,
supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu".
Nuh berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka,
dan melakukan tipu-daya yang amat besar".
Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa', yaghuts, ya'uq dan nasr".
Dan sesudahnya mereka menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.
Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah.
Nuh berkata: "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.
Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.
Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan".
Surat “Hud” ayat 27 s/d 48
mengisahkan dialog Nabi Nuh dengan kaumnya dan perintah membuat kapal serta
keadaan banjir yang menimpa mereka, yaitu sebagai mana dirman Allah sebagai
berikut:

Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta".

Berkata Nuh: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu, jika aku ada mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan diberinya aku rahmat dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagimu. Apa akan kami paksakankah kamu menerimanya, padahal kamu tiada menyukainya?"

Dan (dia berkata): "Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui".

Dan (dia berkata): "Hai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mengusir mereka. Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?

Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa): "Aku mempunyai gudang-gudang rezeki dan kekayaan dari Allah, dan aku tiada mengetahui yang ghaib", dan tidak (pula) aku mengatakan: "Bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat", dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu: "Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka". Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang zalim.

Mereka berkata "Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar".

Nuh menjawab: "Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri.

Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan".

Malahan kaum Nuh itu berkata: "Dia cuma membuat-buat nasihatnya saja". Katakanlah: "Jika aku membuat-buat nasihat itu, maka hanya akulah yang memikul dosaku, dan aku berlepas diri dari dosa yang kamu perbuat".

Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.

Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.

Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: "Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami).

Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal".

Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman". Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.

Dan Nuh berkata: "Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya". Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir".

Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.
Dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah," dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim".

Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya".

Allah berfirman: "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan".

Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi".

Difirmankan: "Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami".
d. Hikmah yang terkandung dari kisah Nabi Nuh
1. Hubungan antara manusia yang terjalin
karena ikatan persamaan kepercayaan atau persamaan aqidah, adalah lebih erat
dan lebih berkesan daripada hubungan yang terjalin karena ikatan darah atau
kelahiran. Kan’aan, walaupun ia adalah anak kandung Nabi Nuh, oleh Allah SWT dikeluarkan
dari bilangan keluarga ayahnya, karena ia menganut kepercayaan dan agama yang
berlainan dengan yang dianut dan didakwahkan oleh ayahnya, bahkan ia berada di
pihak yang memusuhi dan menentangnya.
2. Dari kisah ini dapat dipahami firman
Allah di dalam Al Qur’an yang artinya. “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu
adalah bersaudara. “Demikian pula hadist Rasulullah SAW yang artinya: “Tidaklah
sempurna iman seseorang, kecuali jika ia mencintai saudaranya yang seiman,
sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Juga peribahasa yang berbunyi:
“Adakalanya engkau memperoleh seoranga saudara yang tidak dilahirkan oleh
ibumu.”


















Tidak ada komentar:
Posting Komentar